Masjid Baiturrahman Dalam Perspektif Sejarah

Masjid Baiturrahman beralamat di Dusun Bajur Kalijaga, Desa Bajur, Kecamatan Labuapi, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Masjid ini didirikan di atas tanah seluas 5 are. Tanah tempat berdirinya masjid tersebut merupakan wakaf dari almarhum Bapak Mustajap. Awal berdirinya diprakarsai oleh seorang yang ulama yang bernama Baloq Jariyah(Baloq adalah panggilan untuk buyut dalam bahasa Sasak) dengan terlebih dahulu meminta izin kepada Moyang Abdul Hamid yang merupakan salah satu orang yang menyebarkan agama Islam di Lombok yang bertempat tinggal di Pagutan Kota Mataram. Seiring waktu masjid tersebut mengalami perombakan secara keseluruhan atau sekadar rehab bentuk sebanyak 8 kali.

Menurut penuturan H. Mahmud Yunus bahwa semasa hidupnya beliau mengetahui ada 4 kali pembangunan sampai dengan pembangunan yang kedelapan. Rehab pertama yang diketahui diawali sekitar tahun 1962-an dengan arsitek bernama Datoq Muin dan kepala tukang Baloq Ajip. Bangunan yang semula beratap re dan bahan kitakan dengan luas 10 x10 m2, kemudian diganti dengan bahan batu bata beratap genteng. Jarak sekitar 10 tahunan kemudian dibongkar secara total yang diketuai oleh H. Anom Wirahadi dan sekretaris H. Mahmud Yunus dengan dana awal Rp. 13.000.000, padahal ditaksir dananya mencapai Rp. 300.000.000 oleh arsitek yang bernama Ir. Masnun (almarhum).

Berkat kegigihan masyarakat akhirnya panitia pembangunan mengolah modal Rp. 13.000.000 dengan membuka usaha pupuk untuk petani di wilayah Desa Bajur. Usaha pupuk tersebut karena dikelola masjid maka masyarakat berbondong-bondong membeli pupuk di usaha milik masjid ini sehingga penjualan setiap musim tanam sekitar 25 ton. Hasil penjualan selama 2 tahun beserta modal yang dimiliki  bertambah menjadi Rp.70.000.000.

Setelah beberapa tahun kemudian masjid tersebut direhab dan diberi nama oleh masayarakat berdasarkan petunjuk dari salah seorang yang sangat alim yaitu Datoq Mail dengan nama Baiturrahman. Pada dasarnya nama yang diusulkan yaitu Baiturrahim dan Baiturrahman. Berdasarkan kajian yang lebih mendalam bahwa nama Baiturrahman mengandung makna lebih umum dari pada Baiturrahim sehingga yang akan menempati masjid ini sebagai tempat ibadah adalah semua kalangan mulai dari yang tingkat awam Islamnya sampai yang benar-benar memahami Islam.

Berkat doa dan harapan para sesepuh dan pendiri terdahulu alhamdulillah masjid tersebut sampai dengan saat ini masih dipakai oleh 4 dusun. Hal tersebut diyakini sebagai karomah para sesepuh yang merintis pembangunan masjid ini dengan melibatkan sumbangsih masyarakat 4 dusun yaitu Dusun Bajur Induk, Bajur Ampel, Bajur Girijati dan Bajur Kalijaga, sehingga semua merasa memiliki dan semua pula menampati serta memeliharanya. Inilah keunikan yang tersirat di Masjid Baiturrahman  sebagai perekat persatuan umat Islam pada umumnya dan masayarakat Bajur pada khususnya yang berada pada 4 dusun ini. Dampak yang dimunculkan juga tercermin dari setiap masalah yang dihadapi oleh salah satu kampung yang empat ini. Jika ada masalah di salah satu dusun pasti 3 dusun yang lain ikut mambantu dan bersama-sama menyelesaikan semua permasalahan yang ada. (Habiburrahman/03)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru