logoblog

Cari

Tutup Iklan

Sejarah Masjid Kotraja

Sejarah Masjid Kotraja

SEJARAH BERDIRINYA MASJID JAMI’ RAUDHATUL MUTTAQIN KOTARAJA Adanya bangunan masjid di Kotaraja tidak terlepas dari pengaruh masuknya agama Islam. Secara umum, agama

Direktori Masjid

KM Masbagik
Oleh KM Masbagik
02 Mei, 2015 15:12:15
Direktori Masjid
Komentar: 4
Dibaca: 44903 Kali

SEJARAH BERDIRINYA MASJID JAMI’ RAUDHATUL MUTTAQIN KOTARAJA

Adanya bangunan masjid di Kotaraja tidak terlepas dari pengaruh masuknya agama Islam. Secara umum, agama Islam sudah masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M. Namun, agama Islam mulai menyebar sekitar abad ke-13 yang ditandai dengan berdirinya Samudera Pasai sebagai kerajaan Islam yang pertama. Sedangkan agama Islam masuk di Bumi Selaparang tidak lama setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit. Bikti eksplisit  yang menjelaskan kedatangan islam di Lombok yaitu Babad Lombok yang menjelaskan bahwa Sunan Ratu Giri memerintahkan raja-raja Jawa Timur dan Palembang untuk menyebarkan Islam ke Indonesia bagian utara. Mereka yang ditugaskan antara lain : Lemboe Mangkurat dengan pasukannya ke Bnajar, Datu Bandan ke Selayar, Makasar, Tidore dan Seram, Pangeran Prapen mengirimkan anaknya ke Bali, Lombok dan Sumbawa.

Proses penyebarannya diterima dengan baik oleh masyarakat lokal karena beberapa faktor yaitu agama islam dianggap demokratis, penyebaran berlangsung dengan damai, intensi kegiatan para ulama dan wali yang dianggap memberi manfaat yang nyata bagi kehidupan masyarakat. Setelah itu barulah agama Islam tersebar ke hampir seluruh wilayah Lombok.

Di Kotaraja, proses penyebaran agama islam dilakukan oleh TGH Lalu Abdurrahman, TGH Mustafa bersama tokoh-tokoh lainnya. TGH Mustafa adalah seorang tokoh penyebar agama di masa penjajahan Belanda. Pada saat itu banyak terdapat orang-orang Bali yang berdomisili di Kotaraja, tetapi beliau tanpa takut dan pantang mundur tetap memberikan pengajian-pengajian baik yang bersifat khusus maupun umum bersama TGH Lalu Abdurrahman. Untuk menyebarkan dakwahnya dibangunlah suatu wadah sebagai pusat keagamaan yaitu salah satunya masjid.

Masjid atau mesjid adalah rumah tempat ibadah umat Muslim. Masjid artinya tempat sujud, dan mesjid berukuran kecil juga disebut musholla, langgar atau surau. Selain tempat ibadah masjid juga merupakan pusat kehidupan komunitas muslim. Kegiatan-kegiatan perayaan hari besar, diskusi, kajian agama, ceramah dan belajar Al Qur'an sering dilaksanakan di Masjid. Bahkan dalam sejarah Islam, masjid turut memegang peranan dalam aktivitas sosial kemasyarakatan hingga kemiliteran.

Sebelum masjid ini didirikan di Kotaraja, awalnya masjid ini dibangun di Desa Loyok kira-kira tahun 1500 Masehi. Pada tahun 1961 Masehi karena Desa Loyok tidak mungkin dijadikan sebagai Desa, maka masyarakat Loyok pindah dan membangun Desa ke Kotaraja dengan membawa bahan-bahan masjid di tahun 1111 Hijriah. Adapun bahan bangunan yang ikut dibawa juga yaitu :

  • Soko Guru sebanyak empat buah tiang gurun yang terbuat dari kayu nangka (1500 Masehi) dengan ukuran 30 cm x 30 cm dengan panjang 6 meter,
  • 1 buah tutup tumpang (pataka) dari tanah liat yang dibuat oleh Dende (nama bangsawan wanita Sasak jaman dahulu)
  • 2 buah balok panjangnya kira-kira 4 meter yang ujung pangkalnya diukir
  • Alang-alang atap masjid (1600 masehi),
  • 1 buah bedug dari kayu tenggasing yang dahulu sering digunakan sebagai alat untuk tambur perang,
  • 1 buah bungus berukir berdiameter 60 cm
  • Bahan-bahan balok yang malang / belander lampen (bahasa Sasak) dan teken ider / tiang keliling semuanya berbahan kayu nangka yang berukuran 25 x 20 cm, sedangkan usuknya kayu gendang daya (kayu elar) yang ukurannya 9 x 13 cm.
  • Mimbar masjid dengan kaligrafinya,
  • Atap bersusun tiga yang memiliki makna syaria’at, tarikat, dan ma’rifat, dan

Pada tahun 1600 Masehi zaman Kerajaan Bali, konon masjid ini dibangun dengan memakai atap alang-alang dan tembok bata cetakan (tanah mentah) dengan ukuran 15 x 15 meter oleh masyarakat yang dipimpin oleh Raden Suta Negara, Raden Lung Negara dan sebagai sesepuh agama Raden Mas Oda’ yang merangkap langsung sebagai imam masjid sekaligus sebagai petugas penanggung jawab bidang agama di Desa Kotaraja.

Pada tahun 1700 Masehi atap alang-alang itu diganti dengan memaki sirap bambu. Dan pada saat itu bidang agama dipegang oleh putra Raden Mas Oda’ yang bernama Jeroayah Penghulu. Tahun 1700 Masehi itu juga beliau meninggal dan digantikan oleh putranya yang bernama H. Alimuddin yang lazim dikenal dengan sebutan Tuan Mimbar. Sepeninggal dari Tuan Mimbar digantikan lagi oleh putranya yang bernama H. Imanuddin yang lazim di panggil Tuan Imam.

 

Baca Juga :


Tahun 1890 Masehi masjid ini diganti lagi atapnya dengan menggunakan genteng yang dibeli langsung dari Pulembang (bahasa orang tua dahulu) atau bahasa sekarang dikenal dengan Palembang. Ketika genteng itu tiba di Pulau Lombok yang dibawa menggunakan perahu dan diturunkan di Pelabuhan Labuhan Haji. Kemudian genteng tersebut dipikul secara gotong royong oleh warga masyarakat Kotaraja dari Labuhan Haji. Dan tembok masjid dari tanah pun diganti dengan bata merah dengan campuran pasir 4 kapur (lohloh dalam bahasa Sasak).

Pada zaman pemerintahan kolonial Belanda, mimbar dan jendela masjid diberi ukiran atau kaligrafi huruf Arab hasil karya TGH. Lalu Abdurrahman yang kini makamnya berada di bagian depan masjid yang dikenal sebagai Baloq Makam. Adapun petugas imam pada waktu itu yaitu putra dari Jeroayah Tuan Imam yang bernama H. Lalu Mas’ud sampai tahun 1925 Masehi. Kemudian bangunan masjid sebelah utara  ditambah dan disebut jajar oleh Raden Gumilang, sekaligus dibangun pula bersama masyarakat masjid wanita.

Tahun 1925 masehi putra tertua dari H.L. Mas’ud yang bernama H.L. Tajuddin diangkat sebagai khatib yang kemudian pada tahun 1947 masehi H.L. Mas’ud meninggal dunia  dan langsung menggantikan ayahnya sebagai imam dan khatib dipegang oleh H. Lalu Saefuddin. Tahun 1968 dibangun tambahan masjid Raudhatul Muttaqin berukuran 25 x 35 x 10 meter yang dipimpin oleh Mamiq Rumilang, H.L. Sirajuddin, H.L. Tajuddin  dan H.L.Saefuddin bersama warga masyarakat Desa Kotaraja dengan memakai atap genteng dari Madura dan selesai direnovasi pada tahun 1969 masehi.

Petugas masjid pada waktu itu adalah H.L. Tajuddin  sebagai imam, khatib  H.L.Saefuddin dan H.L. Ridwan. Tahun 1987 masehi H.L. Tajuddin  udzur dan diangkatlah H.L.M. Irfan sebagai khatib Jum’at dengan imam H.L. Ridwan. Tahun 1992 H.L. Tajuddin meninggal dunia maka H.L. Ridwan menjadi imam dan penghulu desa. Tahun 1996 masehi dibangun tambahan masjid lagi dengan ukuran 47 x 37 x 8 meter yang dipimpin oleh H.L. Ilyas, TGH.M. Saleh, H.L. Ridwan, H.L.M. Yunus, H.L. Abdul Mukti dan H.L.M. Irfan bersama masyarakat yang selesai pada tahun 1997 masehi yang memakai atap genteng dari pejaten Bali, kayu Kalimantan dengan lantai keramik putih. Pada tanggal 1 bulan Rabiul Akhir tahun 1417 Hijriah H.L.Ridwan meninggal dunia kemudian digantikan oleh putrannya yang bernama H.L.M. Irfan sebagai imam masjid sekaligus sebagai penghulu Desa Kotaraja dan khatib H. Zaenuddin sampai saat ini. Petugas masjid Jami’ saat ini adalah H.L.M. Irfan  yang merupakan keturunan ketujuh dari sejak dibangunnya masjid ini.

Pada tahun 1999 Masjid Jami’ Raudhatul Muttaqin tercatat dalam Undang-Undang nomor 5 / tahun 1992 sebagai benda cagar budaya atau benda purbakala di Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tingkat I NTB. Tahun 2003 induk masjid ini dipugar dengan ukuran 15x15 meter yang bahan kayunya diganti 75% bersama masyarakat dibantu oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tingkat I NTB.

Semoga peninggalan ini bisa bermanfaat dan menjadi pedoman untuk terus membangun dan melestarikan hasil karya budaya para leluhur yang terus dijaga secara turun temurun. () -01



 
KM Masbagik

KM Masbagik

Nama: Andre Kurniawan, S. Pd. TTL: Kesik, 01 April 1990. Alamat: Desa Kesik Kecamatan Masbagik. Pekerjaan: Swasta. No. HP: 082340354845. Email: Andrejail17@yahoo.com.

Artikel Terkait

4 KOMENTAR

  1. KM Kaula

    KM Kaula

    02 Mei, 2015

    mantab dan luar biasa. salut buat penulisnya.


    1. KM Masbagik

      KM Masbagik

      03 Mei, 2015

      trima kasih smton


  2. KM. Sukamulia

    KM. Sukamulia

    02 Mei, 2015

    Mantab smton, terus berkarya di Kampung Media. Mari kita bongkar sejarah di tanah kelahiran kita. Salam dari Kampung.


    1. KM Masbagik

      KM Masbagik

      03 Mei, 2015

      siap semeton, mari berjuang bersama-sam


 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan