logoblog

Cari

Tutup Iklan

Dari Al-Alif Menjadi Al-Ridho

Dari Al-Alif Menjadi Al-Ridho

KM. Sukamulia – Masjid Al-Ridho Sukamulia adalah masjid kecil yang didirikan di atas sebidang tanah seluas 4 are dengan luas bangunan

Direktori Masjid

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
09 Desember, 2014 03:06:30
Direktori Masjid
Komentar: 0
Dibaca: 7309 Kali

KM. Sukamulia – Masjid Al-Ridho Sukamulia adalah masjid kecil yang didirikan di atas sebidang tanah seluas 4 are dengan luas bangunan 18 x 18 m. Tanah tempat dirikannya masjid ini adalah tanah milik Haji Sadar yang beliau hibahkan kepada pengurus Masjid Al-Ridho dan seluruh warga Dusun Sukamilia pada tahun 1997. Catatan yang paling penting atas keberadaan masjid ini adalah terjadinya hijrah dari tradisi Islam Waktu Telu menuju pelaksanaan ajaran islam yang sempurna, sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Secara kronologis, penulis akan menceritakan mengenai rentetan pristiwa yang menyebabkan masyarakat Dusun Sukamulia membangun Masjid Al-Ridho. Jauh sebelum masjid ini didirikan, menurut cerita dari beberapa tokoh adat Sukamulia, pada sekitar tahun 1949 didirikan Masjid Kuno yang konstruksinya tidak jauh berbeda dengan Masjid Kuno yang ada di wilayah Bayan. Majid itu dinamakan Masjid Al-Alif, penggagas pendirian masjid tersebut adalah Amaq Iraja, Amaq Ali, Amaq Amudin dan beberapa orang tokoh adat dan tokoh masyrakat Dusun Sukamulia pada saat itu. Sebagaimana dijelaskan tadi, Masjid Al-Alif yang dibangun di tengah-tengah perkampungan dibuat dengan model dan bentuk arsitektur tradisional dan fungsinya juga hanya digunakan sebagai tempat pelaksanaan sahalat Jum’at, Shalat Id, Shalat Tarawih dan peringatan hari-hari besar islam seperti Mulud Adat dan peringatan Isra’ Mikrat. Masjid ini juga difugsikan sebagai tempat pelaksanaan puncak prosesi adat seperti Bubur Putiq, Bubur Abang, dan Roah Gubuk. Selain itu Masjid Kuno yang berukuran 5 x 5 m itu juga digunakan sebagai pusat pelaksanaan gundem/rapat/musyawarah untuk membahas berbagai permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat Dusun Sukamulia.

Mungkin saudara bertanya-tanya, mengapa konstruksi Masjid Al-Alif mirip seperti konstruksi Masjid Kuno Bayan ? dan pertanyaan itu memang kerap kami dengarkan dari orang-orang luar yang pernah singgah di kampung kami. Masjid ini dibuat dengan konstruksi seperti itu sebab nenekmoyang masyarakat Dusun Sukamulia adalah orang Teres Genit Desa Bayan. Itu pula yang menyebabkan masyarakt setempat menganut ajaran Islam Waktu Telu pada masa itu. Perbedaan antara Masjid Al-Alif dengan Masjid Kuno Bayan adalah pada atap yang digunakan, jika Masjid Kuno Bayan Beleq menggunakan atap santek/bambu maka Masjid Al-Alif menggunakan atap yang terbuat dari ijuk dan terahir menggunakan atap ilalang sebab masyarakat kesulitan mendapatkan ijuk.

Menurut cerita yang pernah penulis dengar dari para pendahulu Sukamulia, pada sekitar tahun 1972 Sukamulia pernah ditimpa musibah kebakaran dan hanya Masjid Al-Alif dan rumah Amaq Nasir (putra Amaq Iraja) yang tersisa sedangkan rumah warga lainnya habis dilalap si jago merah. Hal inilah yang kemudian memperkuat keyakinana para pendahulu Dusun Sukamulia untuk terus mempertahankan bangunan masjid itu dengan segala keyakinan masyarakatnya yang anemonya adalah penganut Islam Waktu Telu. Hanya saja perkembangan zaman dan tuntutan kebutuhan warga atas tempat peribadatan yang lebih baik maka pada tahun 1996 masyarakat Dusun Sukamulia berinisiatif untuk mendirikan masjid yang berukuran lebih besar dengan konstruksi dan arsitektur modern. Untuk meralisasikan rencana itu maka tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh adat setempat bersepakat untuk mengeluarkan iuran wajib dengan model berkelas. Untuk warga yang termasuk dalam kelompok kelas I dikenai iuran sebesar Rp. 350.000, kelompok II dikenai Rp. 200.000, kelompok III dikenai Rp. 100.000 dan kelompok IV dikenai sejumlah Rp. 25.000.

Ahir tahun 1996 dana itu terkumpul, namun jumlahnya belum mencukupi untuk membangun sebuah masjid yang besar dengan konstruksi dan arsitektur modern. Sebenarnya dana yang terkumpul itu cukup untuk membuat pondasi namun masyarakat belum memiliki tanah yang lebih luas sebagai tempat untuk mendirikan masjid sebab tanah tempat berdirinya Masjid Al-Alif sangatlah sempit, ukurannya hanya satu are setengah dan tanah itu tidak memungkinkan untuk dibuatin masjid yang lumayan besar. Atas dasar itulah maka masyarakat berinisiatif untuk menjual tanah masjid itu dengan harga 12 juta. Tidak ada orang yang berani membayar tanah itu sebab warga Dususn Sukamulia dan sekitarnya memiliki keyakinan bahwa tanah masjid tidak boleh dijual dan jika ada orang yang membelinya maka ia tidak akan nyaman tinggal di atas tanah itu.

Hingga petengahan tahun 1997, belum ada juga orang yang berani membeli tanah masjid itu, sedangkan pemungutan iuran tahunan terus dijalankan. Beberapa kali warga setempat berkumpul untuk merembukkan bagaimana caranya supaya mereka bisa segera mendapatkan tanah sebagai tempat mendirikan masjid dan ahirnya Amaq Rusna berinisitaif mengajak warga untuk meminta sebidang tanah kepada Haji Sadar yang waktu itu memiliki tanah/kebun yang letaknya cukup strategis dengan luas 2 hektar. Waktu itu Amaq Rusna adalah penyakap/orang yang dipercayai menjaga kebun itu. Atas kesepakatan bersama maka beberapa orang tokoh masyarakat bersama Amaq Rusna berkunjung ke rumah Haji Sadar yang berada di Desa Pohgading (sebelah selatan pasar Pohgading). Tujuan mereka ke sana adalah untuk member tahu Haji Sadar akan niat mereka yang ingin mendirikan masjid sebagai wadah untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Awalnya sih mereka meminta supaya Haji Sadar berkenan memberikan mereka membeli tanahnya. Namun mendengar niat baik itu, Haji Sadar langsung menghibahkan tanah kebun-nya itu kepada masyarakat Dusun Sukamulia, beliau menghibahkan seluas 4 are.

Harapan ingin mendirikan masjid di tempat yang strategis terpenuhi jua, maka pada bulan September 1997 dibentuklah Panitia Pembangunan Masjid yang waktu itu diketuai oleh Aliah alias Amaq Husni dengan sekertaris Sanusi dan bendaharanya adalah Haji Aminuddin. Setelah panitia itu terbentuk maka sekitar dua minggu sebelum memulai pembangunan, panitia pembangunan mengajak masyarakat berkumpul untuk membicarakan mengenai nama masjid dan pertemuan itu mengahasilkan kesepakatan bahwa nama Al-Alif diganti dengan nama Al-Ridho. Dengan demikian, mulai bulan September 1997 nama Masjid Al-Alif syah diganti dengan Al-Ridho atau lebih enak disebut Masjid Al-Ridho Sukamulia.

Dengan modal 38 juta dan niat baik untuk merubah kebiasaan Islam Waktu Telu, masyarakat Dusun Sukamulai meletakkan batu pertama pada tanggal 7 Oktobrt 1997. Pada saat itu, panitia pembangunan mendirikan Masjid Al-Ridho dengan luas 10 x 10 m dan dengan Anggaran Biaya sekitar 350 juta. Perlu diketahui bahwa sumber dana untuk membangun Masjid Al-Ridho Sukamulia pada waktu itu adalah murni swadaya dari masyarakat Dusun Sukamulia tanpa meminta-minta di jalan raya ataupun meminta-minta menggunakan kotak amal keliling dan waktu itu juga tidak ada bantuan dana dari pemerintah ataupun pihak swasta. Dengan tekat ikhlas dan niat yang lurus maka pada ahir tahun 1999 pembangunan Masjid Al-Ridho terselesaikan jua.

Bentuk masjid itu cukup sederhana, kostruksinya menyerupa arsitektur Masjid Agung Demak hanya saja Masjid Al-Ridho tidak memiliki menara. Masjid itu beratap tumpang dengan tumpang tiga dan bertangga tiga pula. Pintu gerbangnya juga menyerupai pintu gerbang Masjid Agung Demak. Bentuk Masjid Al-Ridho waktu itu cukup unik sayang sekali penulis tidak menemukan dokumen berbentuk gambar atau poto bengunan Masjid Al-Ridho pada saat itu sebab tidak ada seorang pun yang berfikir untuk medokumentasikannya, maklumlah tahun 1999 hingga 2007 belum ada warga Dusun Sukamulia yang punya kamera ataupun HP canggih seperti sekarang ini.

Keberadaan masjid itu membuat luntur tradisi Waktu Telu. Sejak Masjid Al-Ridho itu berdiri, tokoh-tokoh muda di Dusun Sukamulia melakukan revolusi terhadap kebisaan Waktu Telu dan terus mencoba untuk membawa masyarakat ke arah pengamalan ajaran islam yang sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Adzan dikumandangkan setiap waktu dan shalat berjamaan ditegakkan pula yang meskipun saat itu (1997 hingga 2004) jamaah shalat hanya berkisar antara 1 hingga 2 saf. Namun pada pelaksanaan shalat Jum’at, Shalat Id, dan Shalat Tarawih jamaah shalatnya mencapai 10 hingga 12 saf.

Tokoh pemuda Sanusi, Nur Husni, Juniardi dan kawan-kawannya terus berusaha untuk merangkul tokoh adat, tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat untuk melakukan perubahan secara pelan-pelan dan ahirnya perubahan yang cukup signifikan terlihat mulai pada tahun 2007. Hal ini dipengaruhi oleh banaknya generasi muda Dusun Sukamulia yang mengenyam pendidikan hingga bangku SMA dan merekalah yang kemudian menjadi agen perubahan hingga saat ini.

Pada awal tahun 2007 terjadi pergantian pengurus yang berpengaruh terhadap perubahan program pembangunan. Pengurus pada saat itu berkeinginan untuk meningkatkan masjid, artinya mereka berkeinginan untuk membuat masjid berlantai dengan alasan jumlah warga Dusun Sukamulia yang semakin bertambah sedangkan masjid yang sudah ada tidak bisa menampung jamaah, terutama pada saat pelaksanaan shalat Tarawih, shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Setelah beberapa kali menyelenggarakan rapat bersama warga setempat maka mereka sepakat untuk merubah bentuk Masjid Al-Ridho yang semulanya hanya berlantai satu dengan atap tumpang menjadi lantai dua dengan ukuran yang lebih besar lagi.

 

Baca Juga :


Untuk meralisasikan rencana itu maka masyarakat Dusun Sukamulia sepakat untuk mengeluarkan iuran tahunan dengan system kelas sebagaimana yang telah mereka lakukan pada tahun-tahun sebelumnya namun dengan jumlay yang lebih besar. Sejak waktu itu (2007), kelas I dikenai iuran sebesar 1 juta, kelas II dikenai iuran sebesar 750 ribu, kelas III dikenai 450 ribu, kelas IV dikenai 250 ribu dan kelas V dikenai 100 ribu. Pada ahir tahun 2007 terkumpullah dana sekitar 80 juta ditambah dengan bayar tanah Masjid Al-Alif yang dijual dengan harga 18 juta. Dengan demikian maka terkumpullah dana sebesar 98 juta dan dengan dana itu maka pada bulan November 2007 dilakukan pembongkaran ulang dan dimulailah peletakan batu pertama yang waktu itu dihadiri oleh Ali Bin Dahlan (Bupati Lombok Timur), saat itu juga beliau memberikan sumbangan sebesar 5 juta, batu kali 10 dam, pasir 10 dam dan semen 50 zak.

Kali ini, anggaran biaya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pembangunan Masjid Al-Ridho adalah 1,5 milyar. Namun masjid ini terus dibangun tanpa meminta-minta di jalan raya ataupun dengan kotak amal keliling sehingga sampai saat ini anda tidak akan menemukan satu kotak amal-pun di masjid tersebut. Warga Dusun Sukamulia betul-betul mandiri dalam membangun Masjid Al-Ridho, mereka tidak terlalu mengharapkan bantuan dari pihak pemerintah ataupun swasta dan warga dusun lainnya. Hingga saat ini, pengurus Masjid Al-Ridho pernah menerima bantuan dari Pemerintah Kabupaten Lombok Timur sebanyak dua kali dengan dana 10 juta dan dari salah seorang Anggota DPR Lotim dengan dana sejumlah 15 juta. Selain itu adalah iuran wajib yang dipingut pada setiap tahunnya.

Hingga saat ini tahap penyelesaian bangunan Masjid Al-Ridho yang berukuran 18 x 18 m itu baru mencapai 50% dan sudah menhabiskan dana sekitar 470 juta. Bangunan yang berukuran 18 x 18 m itu dilengkapi dengan ruang sekertariat yang berada di sebelah kanan mihrab dan gudang yang berada di sebelah kiri mihrab. Selai itu, Masjid Al-Ridho juga dilengkapi dengan tempat bersuci dan gudang asset masjid (tempat menyimpan piring, gelas, tikar, ponjol, nare/sampak, tembolaq, dan kelengkapan memasak lainnya) yang terletak di pada bagian halaman depan masjid. Untuk pembangunan tahap selanjutnya akan terus dilaksanakan oleh Panitia Pembangunan Masji beserta masyarakat Dusun Sukamuli denga target penyelesaian pada tahun 2018. Semoga rencana mulia ini dapat terlaksana dengan baik dan tanpa adanya alar yang melintang.

Selama Masjid Al-Ridho berdiri, sudah terjadi tiga kali pergantian pengurus. Pengurus periode pertama 1997 - 2007 terdiri dari Amaq Husni sebagai ketua, Sanusi sebagai sekertaris, Haji Aminuddin sebagai bendahara, Amaq Rusna sebagai Marbot, Dewan Imam Masjid terdiri dari Haji Salwi, Haji Aminuddin, Amaq Husni, dan Amaq Sunardi serta Dewan Khatib yang terdiri dari Sanusi, Juniardi, Nur Husni, dan Kanahan.

Pengurus kedua 2007 - 2011 terdiri dari Haji Hamzan Manab sebagai ketua, Sanusi sebagai sekertaris, Jamaludin sebagai bendahara, Amaq Rusna sebagai Marbot, Dewan Imam Masjid terdiri dari Haji Salwi, Haji Salam Basri, Sanusi, dan Amaq Sahlan serta Dewan Khatib yang terdiri dari Muhasan, Nur Husni, Abdul Latif dan Asri.

Pengurus periode ketiga 2011 - 2014 terdiri dari Haji Salam Basri sebagai ketua, Sanusi sebagai sekertaris, Jamaludin sebagai bendahara, Amaq Rusna sebagai Marbot, Dewan Imam Masjid terdiri dari Sanusi, Nur Husni, Muhasan, dan Arifudin serta Dewan Khatib yang terdiri dari Badri Rohim, Suhardi, Nur Husni, dan Asri.

Pengurus periode keempat 2014 - 2018 terdiri dari Haji Hamzan Manab sebagai ketua, Sanusi sebagai sekertaris, Jamaludin sebagai bendahara, Amaq Rusna sebagai Marbot, Dewan Imam Masjid terdiri dari Sanusi, Nur Husni, Muhasan, dan Arifudin serta Dewan Khatib yang terdiri dari Badri Rohim, Suhardi, Nur Husni, dan Amaq Tantowi.

Selain berfungsi sebagai pusat pelaksanaan ibadah, Masjid Al-Ridho juga difungsikan sebagai pusat kegiatan pemuda dan remaja Dusun Sukamulia, tempat bermusyawarah, tempat melaksanakan pengajian, tempat pelaksanaan puncak-puncak prosesi tradisi adat, tempat pernikahan dan penyusunan program-program ASA Community. Sekali lagi, keberadaan Masjid Al-Ridho Sukamulia membawa hikmah yang sangat besar bagi dunia keagamaan masyarakat Dusun Sukamulia sebab dengan keberadaan masjid ini maka masyarakat Dusun Sukamulia berangsur-angsur menyempurnakan peribadatan mereka dengan berpatokan pada ajaran Al-Qur’an dan Al-Hadits dan meninggalkan tradisi Waktu Telu yang dulunya sangat kuat dalam kehidupan masyarakat mereka sehingga sekarang masyarakat setempat menjalankan ajaran islam yang sebenarnya dengan bertalikan kekeluargaan dan jiwa kegotong royongan tanpa meninggalkan tradisi-tradisi lama dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. [] - 05

_By. Asri The Gila_



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan